terang dan djoedjoer, jang tiada mengenal hal poera-poera dan hal menjaroe atawa memake topeng, baik di dalam bitjara, baik di dalam kalakoean. Tah, itoelah jang telah djadi lantaran, maka goeroe-goeroe kita jang pertama itoe, saöemoernja hidoep, sanantiasa ada terdjoendjoeng, dan pada sasoedahnja wafat, namanja tida terhilang dari ingatan orang. Biarlah kita ambil marika itoe aken djadi toeladan, dan kita goenaken segala daja-oepaja aken menoeroet kalakoeännja."
Di dalam temponja tiada mendjabat kerdjaän negri, Khongtjoe ada dapat kabar terang, bahoewa satoe ponggawa besar, jang berpangkat tajhoe di dalam karadjaän TJEE, TIEN SIANG namanja, ada niatan aken djatohken radjanja sendiri dari atas tachta, laloe mengangkat diri sendiri mendjadi radja; aken tetapi ya ada merasa takoet sama radja negri Louw, jang didoega olehnja brangkali nanti membri toeloengan pada itoe radja jang bakal didjatohken; dan dari sebab bagitoe, TIEN SIANG itoe telah mengatoer daja-oepaja aken tangkap radja Louw itoe dengan djalan hianat. Satelah dengar hal itoe, lantaslah djoega Khongtjoe titahken satoe moerid, jang terpilih olehnja, pergi kapada sekalian pembesar di watas karadjaän dan bri taoe pada marika ini hal adanja TIEN SIANG poenja niatan djahat. Kerna pertjaja pada itoe warta jang dikirimken oleh Khongtjoe, sekalian pembesar itoe lantas berdandan dan membri sendjata pada orang-orang sabawahannja, hingga perkaranja TIEN SIANG itoe djadi terbalik; kerna sedang dija ini hendak menjerang, dija diserang orang dan misti melawan aken toeloengi diri sendiri.
Maskipoen Khongtjoe telah bekerdja di dalam perkara itoe dengan pernahken dirinja di sabelah belakang, tiadalah loepoet dikataken djoega oleh segala orang, bahoewa dijalah