— 42 —
bahoewa senangken hati dengan boenji taboe-taboeän, itoelah ada lebih baik dari pada senangken hati dengan minoeman, atawa dengan bangsa eilok, dan djikaloe baginda menoeroet toeladannja keizer SOEN di dalam hal senangken hati dan hal memerintah karadjaän, tantoelah djoega baginda nanti djadi satoe radja jang baik dan sekalian rahajat poen nanti lakoeken dengan senang segala kawadjibannja, hingga pantas terperintah oleh satoe radja jang baik.
Baginda radja poen trima dengan senang hati itoe natsehat jang berarti dalam sekali, malah ija berkata djoega, bahoewa ija sangat mengarap, jang KHONGTJOE poenja neboewet itoe sigra nanti terboekti ; lain dari bagitoe, baginda ada meminta dengan manis dan dengan sangat kapada Khongtjoe, soepaja goeroe jang terhormat ini, nanti soeka sering-sering
datang berdjoempa kapadanja.
Dari sebab baginda ada kalihatan amat mengormatin dan soeka kapada Khongtjoe, gampanglah djoega aken didoega, bahoewa sekalian pembesar poen menoeroet pada lakoenja baginda di dalam hal itoe. Saände Khongtjoe ada bermaksoed sadja aken hidoep dengan senang dan enak, tantoe sekali ija tinggal tetap di dalam karaton radja Tjee itoe, di mana sekalian ponggawa ketjil dan besar ada mengormati padanja.
Aken tetapi boekan bagitoe maksoednja Khongtjoe. Maka tempo goeroe ini soedah melihat njata, bahoewa baginda radja dan sekalian orang karaton tiada memboewangken kalakoeän jang koerang baik, hanja tetap sadja berlakoe sabiasanja, lantaslah djoega ija membri taoe, jang ya hendak berlaloe dari karaton Tjee, dan tiada berselang lama lagi, maskipoen di tahan-tahan oleh baginda, jang sangat meminta soepaja ija djangan pergi, tiada loepoet KHONGTJOE berangkat djoega ka tampat sendiri di karadjaän Louw,
Baginda radja Tjiauwkong dengar kabar dengan senang